CERPEN



NIBA

"Maaf Non..ada yang ingin bertemu di depan"
Aku menoleh pada asisten rumahku itu.
"Siapa?"
"Engak tahu..yang pasti ibu-ibu Non" jelas Bi Asih
Aku mengernyitkan dahi. Apakah yang ingin berkonsultasi? Tapi biasanya ditangani oleh Seni,asisten. "Ya sudah tunggu 10 menit lagi. Aku akan bersiap-siap" Aku langsung menyambar pakaian ku. Menggantinya lalu memoleskan bedak tipis ke wajahku. Aku Anita seorang psikologi. Rumah bagian depan aku jadikan sebagai tempat kerjaku juga tempat untuk mereka yang ingin berdiam diri. Mungkin ibu-ibu yang memaska ingin bertemu itu adalah salah satu dari mereka yamg punya problema.
Ini hal biasa. Mengurusi masalah orang. Mencoba memberikan solusi. Berusaha menjadi penengah yang baik. Menjadi pendengar yang mengerti. Dan mencoba mencari jalan keluar bahkan menjadi tameng untuk mereka.
Langkahku terhenti ketika aku bersitatap dengan ibu-ibu itu.

"Tante Rose?"

Ia tersenyum.

Dan saat itu putaran film rusak 4 tahun lalu tak henti hentinya menari di pikiranku. Bayangan masa lalu yang ku kubur dalam-dalam. Bayangan seseorang yang tak sempat ku raih. Bukan..tapi memang tak bisa ku raih.
4 tahun lalu..Ketika aku masih kuliah. Saat dimana masa-masa sulitku.. Dan dia bagai air kehidupan yang membuat aku mabuk kepayang terhadapnya. Berawal dari pertemuan yang tidak sengaja. Waktu itu aku tertebrak oleh mobilnya.
Aku kira..waktu itu dia tak akan bertanggung jawab. Tapi salah. Ia bahkan merawatku. Mungkin karena pertemuanku dengannya yang lumayan sering,bersemailah rasa sayang di hatiku.
Hari ini dimana hujan baru saja reda. Dan sang surya mulai muncul lagi untuk memeluk setiap insan. Dimana.itu adalah hari ulang tahunku. Hari yang kutunggu. Hari paling indah tapi juga paling buruk.
Gigiku gemeretak karena kedinginan. Aku baru saja selesai kuliah. Seperti biasanya dia..Bayu..selalu menjemputku. Aku sempat menolaknya bahkan berkali-kali berusaha menjauhiku. Karena aku takut cinta ini semakin besar. Toh aku sudah sembuh dan dia sudah lepas tanggung jawab karena aku sudah sembuh bahkan terlalu sembuh.
Tapi sayang ia keras kepala. Padahal aku tahu dia sibuk..dia seorang General Manager di perusahaan Ayahnya. Aku kagum padanya di usia yang masih muda ia sudah sukses. Bahkan ia seorang dermawan dan ramah. Tak pernah membeda-bedakan orang.
Saat itu akau masih ingat ia sangat berbeda. Terlihat begitu memanjakanku. Ia bahkan tak lepas tersenyum terhadapku. Aku keheranan dibuatnya.

"Bay..kenapa sih ? Ko senyum senyum terus?"
"Engga emang aku dari tadi senyum-senyum gitu ?"
Aku mengangguk "Kamu gak panas kan?"
Ia tergelak "Parah.."
Ia menepikan mobilnya. Aku tambah keheranan. Mana sepi lagi..uhh kalian bayangkan saja susana setelah hujan di jalanan sepii..lumayan bikin bulu kuduk merinding kan ?
Aku menautkan sebelah alisku "Kenapa berhenti? Kan rumahku masih jauh?"
Ia menatap dalam mataku. Aku sedikit terganggu akan sikapnya itu. Lelah. Aku menundukkan wajahku. Ia malah mendongakkan wajahku sampai bersitatap dengan mata hitamnya. Entah kenapa oksigen di dalam mobil seakan menipis dan aku seketika menahan nafas.
Ia masih menatapku. Aku ingin bersuara.  Tapi tak kuasa aku hanya bisa kembali menatap dalam mata Bayu. Jantungku berdegup kencang..

"B...Bay...." lirih diriku
Ia hanya menautkan alisnya kemudian menarik tangannya. Ia tersenyum lagi.
"Aku mau ngomong boleh?" Ucapnya
"Siapa yang ngelarang coba?" Aku mengerling.
"Kalo aku suka sama kamu gimana?"
Pernyataan itu atau pertanyaan itu...sukses membuatku tertegun.  Ternyata perasaanku selama ini tak bertepuk sebelah tangan...tapi masih ada keraguan yang merajai hatiku ini..
Apa dia benar-benar mencintaiku? Oh tunggu dia hanya menyukaiku.
"Terus ? Suka itu wajar ko" jawabku enteng setelah bisa mengendalikan perasaanku.
"Tapi ini gak wajar Nit.."
Aku menatapnya.
"Aku cinta sama kamu Nit.."
Ohh jangan katakan ini mimpi..aku sungguh mengharapkannya.
Tapi..apa dia serius ?
Aku menundukkan kepalaku. Aku bingung mau jawab apa..Aku hanya takut di permainkan. Aku takut dia tak serius.
"Kenapa tak dijawab? Apa kamu tidak mencintaiku Nit? "
Aku tak bergeming. Aku terlalu bingung.
"Nit..apa kamu tidak percaya?"
"A..a.ku..."

Cup.

Aku berjengit tak percaya. Bibir Bayu sudah bertengger manis. Saat itu aku tersentak. Lama dia menenggerkan bibirnya di bibirku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Berontak pun aku tak bisa. Tubuhku seakan meluruh. Semua ototku lemas. Mataku hanya bisa menatap tak percaya. Mungkin 5 menit kemudian ia mulai menjauhkan dirinya dari hadapanku.

"Apakah itu tak cukup membuktukana kalau aku mencintaimu Nit? Aku tidak meminta kamu jadi pacarku. Tapi aku ingin kamu yang jadi ibu dari anak-anakku"

Aku semakin menatap tak percaya.

"Bay..Apa kamu serius?" Akhirnya aku bisa meluncurkan sekalimat pertanyaan.
Bayu mentapku dalam. Dalammmmmmm sekali. Sampai aku tak tahan melihat sorot matanya itu. Ada rasa tak enak ketika aku melontarkan pertanyaan itu. Jelas..jelas ia sudah berbuat di luar dugaanku. He is stole my fisrt kiss.

"Kalau kamu masih tak percaya. Apa aku harus menjamah tubuhmu dulu?"

Aku menatap horror.

Ia tertawa "Sudah..jangan marah begitu..aku pun tak mau melakukannya sebelum kau halal untukku. Tapi..kalau kau meminta melakukannya ya..apa boleh buat?" Ia mengerling jahil kepadaku.

"Bayuuuu...!! " aku kesal. Dia begitu tenang mengucapkannya sedangkan aku ? Aku geli mendegar yang menjurus seperti itu. Aku mencubitnya tanpa ampun. Ia mengerang kesakitan tapi aku tak peduli. Habisnya aku kesal sebal sama dia. :3

"Aduh..duh udah dong Nit.." ia berusaha mengunci tanganku agar tidak mencubitinya lagi.
"Makanya..jangan kaya gitu"
"Iya..iya Emnhh gimana? Apa kamu mau jadi istri dan ibu dari anak-anakku?'
Kali ini ia serius. Dengan tangannya yang menggenggam erat tanganku. Sedangkan aku masih bimbang luar biasa. Aku ingin mengatakan 'iya' tapi..tenggorokanku serasa tercekat. Aku grogi mengatakannya. Tapi lama-lama akhirnya ku anggukan kepalaku. Kemudian Bayu tersenyum kepadaku.
"Makasih Nit..Dan sekarang kita langsung ke rumahku ya..aku bakalan ngenalin kamu ke kedua orang tuaku."
"Ko buru-buru?"
"Niat baik harus di segerakan kan?"
Aku hanya bisa mendesah pasrah. Bayu dengan lihai mengendarai mobilnya membelah keheningan seusai hujan. Semilir angin menyentuh tengkuk ku saat aku sampi di rumah Bayu. Perasaan grogi menguasai diriku. Tanpa sadar aku pun menggenggam erat tangan Bayu.

"Ga usah grogi..mamahku kan manusia bukan gorilla'

Aku memukul pelan lengannya.

Entah kenapa. Jantungku semakin berdegup kencang. Ketika ubin-ubin rumah Bayu ku jejaki. Terdengar suara ramai orang mengobrol. Mungkin keluarga Bayu sedang berkumpul. Aku mengedarkan pandangan. Tak lama Bayu menghentikan langkahnya,aku pun juga. Tampak orang-oramg mungkin kerabat keluarga Bayu sedang berkumpul.

"Mah..Pah.." sapa Bayu
"Bay?? Kenapa kamu baru datang? Kemana saja? Lihat Ninda sudah lama menunggu kamu. Kita disini sudah sejam yang lalu. Dan kami sudah memutuskan 3 bulan lagi kalian menikah"
Apa?? Aku masih mencerna apa maksud perkataan ibu-ibu yan mungkin saja itu adalah ibunya Bayu. Mulutku mengatup rapat. Aku hanya bisa menggenggam erat tangan Bayu.
"Nah sekarang kenapa kamu malah berdiri ? Duduk di samping Ninda? Oh iya siapa itu ? Apa itu WO yang kamu pesan Bay?" Lanjutnya
Dan sekarang aku paham. Aku melepaskan genggamanku. Aku berusaha menguasai diriku sendiri. Berusaha untuk tidak menangis di hadapan mereka. Aku mulai membuka mulutku.

"Maaf..saya bukan WO. Permisi"

Ucapku lalu pergi. Bayu menahanku. Tapi aku terlalu sakit. Mungkin ibunya Bayu itu baru sadar jika sedari tadi kami saling menggenggam tangan. Mungkin ibunya Bayu pun baru sadar jika kami bukan teman apalagi WO. Toh genggaman tangan kami telah menjelaskan semuanya.

Samar aku mendengar pertengkaran mereka.

"Bayu ! Kenapa kamu pilih dia? Apa dia lebih baik daripada Ninda? Apa dia sepadan dengan kita?"
"Ibu tak akan memberimu restu jika wanita yang kau pilih bukan Ninda!"

Aku tersenyum miris. Lagi-lagi harta. Mengapa semuanya di ukur oleh harta dan kekayaan ?. Apa orang kecil sepertiku tak pantas untuk bahagia?.
Mataku semakin berkabut. Cairan bening tak mampu lagi ku tahan. Mengalir deras tanpa mau tahu betapa keras aku menahannya agar tidak tumpah. Semuanya sudah selesai. Tanpa mau aku meraihnya lagi. Dia terlalu tinggi untuk ku raih.

*****

"Nit..Tante mohon..hanya kamu yang bisa menolong anak Tante. Kamu boleh membenci Tante kamu boleh tidak memaafkan Tante. Tapi tolong temui Bayu sekali saja..Dia butuh kamu" Tante Rose masih keukueh agar aku menemui Bayu.
Entahlah aku hanya ingin tidak jatuh untuk kedua kalinya. Semuanya sudah selesai. Untuk apa aku menemuinya jika hanya akan membuatku luka ?
"Semuanya sudah selesai Tan.." Aku pergi meninggalkan Tante Rose
"Tante mohon Nit..tolong Bayu butuh kamu.. Tante gak maksa kamu buat balik sama Bayu tapi Tante cuman mau kamu temuin Bayu sekali saja"
Aku masih melanjutkan langkahku tak peduli panggilan Tante Rose. Semuanya sudah selesai tak ada yang akan diperbaiki lagi. Biarkanlah seperti ini. Tak terasa air mataku mengalir. Selalu begini. Aku berjengit ketika mendapat tepukan tepat di bahuku. Aku menoleh. Ternyata Ibu.
"Ibu.." aku meraih tubuhnya. Memeluknya adalah obat mujarab untuk segala kesakitanku. Dekap tulusnya adalah yang ku harapkan. Sentuhan sayangnya adalah hal yang paling ku butuhkan setiap saat.

"Nit..kenapa kamu begitu?"
"Tapi Bu..."
"Semuanya harus diselesaikan Nit..kamu harus menyelesaikan"
"Semuanya sudah selesai Bu.."
"Belum Nit..sekarang apa kamu sudah bisa merelakan kejadian itu? Apa kamu sudah bisa melupakan Bayu?"

Aku tak bergeming.

********

Gemericik air hujan mengiringi langkahku menjejaki ubin ini. Kini aku sudah berada di depan rumah Bayu. Ya rumah yang sempat ku benci karena hal itu. Yang memang aku pun belum bisa menerima apalagi merelakan kejadian itu. Terlalu sakit aku rasa.
Suasana rumah ini masih tetap sama seperti dulu aku kesini. Aku mulai memencet bel 2 kali. Sebenarnya berat untuk aku kembali ke rumah ini. Ketika aku memasuki pelataran rumahnya pun aku butuh seribu keyakinan.
Lama aku berdiri menunggu. Sampai pintu berukir itu terbuka.
"Nita?" Ucap Tante Rose lalu memelukku erat. "Akhirnya kamu datang juga Nit.."
Aku tersenyum "Boleh aku bertemu Bayu Tan..aku tak punya banyak waktu"
"Tentu Nit.."
Aku digiring Tante Rose ke sebuah...mungkin kamar. Kamar itu sangat tertutup aku tak dapat melihat cahaya terpancar dari sana.
"Tapi Nit.."
"Kenapa Tan ?"
"Tidak." Tante Rose menggeleng tapi genggaman tangannya mengerat aku bingung di buatnya. "Terimakasih banyak..dan Maaf atas semua kesalahan Tante" lanjutnya
"Semuanya harus di selesaikan Tan.." ucapku lalu ku buka pintu itu. Semerbak yang entah apa itu yang jelas sangat tidak mengenakkan.

Dan aku terpaku

Ketika kulihat sesosok pria meringkut dengan kedua tangannya di tali. Aku menatapnya nanar. Itu Bayu. Ya itu Bayu. Sangat mengenaskan keadaanya. Aku tak sanggup berkata-kata melihat Bayu seperti ini. Sudah sirna senyum Bayu yang menawan yang ada hanya bibir terkatup rapat. Tak ada lagi binar mata yang mempesona yang ada hanya sorot putus asa. Bayuku hilang.
Aku menoleh ke belakang. Tante Rose hanya bisa menatapku nanar dan mengalirkan kesesakan hatinya. Aku meringis melihat Bayu seperti ini. Rasa bersalah menyeruak dalam dada. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak tahu harus berkata apa.
 Aku tak terpaku di tempatku berdiri. Aku hanya bisa menyaksikan penderitaan Bayu.

"Tante tinggal dulu.." ucap Tante Rose memecah keheningan yang terjadi.

Tante Rose telah pergi. Aku masih belum bisa beranjak dari tempatku berdiri. Sampai tubuh lemah itu menggeliat. Matanya yang tertutup kini perlahan terbuka. Dia terbelalak melihatku. Tubuhnya reflek ingin menghampiriku.

"Nita..!!"

kkrek

Karena ikatan itu Bayu tak bisa menghampiriku. Dan setetes air mata mengalir dipipiku. Aku berusaha menguatkan tubuhku untuk beranjak.

"Sudah jangan begitu..nanti kamu makin sakit Bay.." Akhirnya aku bisa meraihnya.
Saat aku mendekatinya. Bayu memelukku erat. Dan air mataku tak mampu di bendung lagi.
"Nit..kamu kemana aja ??"
"Bay..sudah lupakan sekarang aku disini. Dan aku ingin kamu sembuh..Kembali menjadi Bayuku" Bayu tidak mengatakan apa-apa dia malah memelukku erat sampai aku tercekat. Tapi aku membiarkan semuanya aku membiarkan ia mencurahkan segala kesakitannya selama ini.
Sejak hari itu..aku memulai hidup baru dengan Bayu lagi. Mencoba memulihkan keadaan dan meyelesaikan yamg memang harus ku selesaikan. Dari hari ke hari Bayu mulai membaik. Bahkan dalam dua minggu ia sudah mulai memegang tangguk perusahaan Ayahnya yang selama ini terbengkalai. Ia mulai kembali seperti sedia kala. Menjadi Bayuku kembali. Senyumnya yang menawan,sorot matanya yang mempesona. Itu telah hadir kemabli. Menghiasi hari-hariku. Dan sedikit menjadi obat atas penyesalan yang aku rasakan.
Dia depresi ketika aku tinggalkan. Dia sebenarnya mengejarku setelah bercekcok dengan kedua orang tuanya. Lalu selama dua bulan tak henti-hentinya mencariku. Sampai tabrakan beruntun membuatnya drop dan berakhir depresi. Tante Rose berusaha mencariku karena Bayu hanya ingin bertemu dengan diriku. Aku tak tahu itu karena aku sudah pergi ke negeri Paman Sam.
Hari ini aku begitu lega melihat gelak tawa Bayu. Dia begitu segar 180 derajat berbeda ketika aku pertama menemuinya setelah 4 tahun lalu. Sekarang ya seperti ini aku bahkan sudah seperi istrinya,menyiapakan makannya,pengobatannya,dan kesehatannya.
Dan di malam yang terang akan cahaya bulan..aku sedang menunggu Bayu pulang kerja. Seperti biasa di hari kosongku aku akan menghabiskan waktu untuk Bayu. Untuk kesembuhannya. Sudah terbayang senyumnya yang merekah ketika di ambang pintu. Sudah terbayang pelukan hangatnya yang akan ku terima.

Buk

Pintu terbuka keras. Aku kaget. Begitupun dengan Tante Rose da Om Gusti. Aku lihat Bayu dlimuti kemarahan yang luar biasa. Matanya merah. Rahangnya mengeras. Ia menatapku tajam.

"Anita..apa maksudmu untuk ini?"

Aku meicingkan mata ketika selembar undangan di remasnya. Dan aku tersadar itu adalah undangan pernikahanku dengan Jay. Lelaki yang telah mengisi hidupku 2 tahun belakangan ini. Yang sudah menghapuskan lara hatiku mengarahkan pada hidup yang lebih indah.

"Aku hanya ingin menyelesaikan semua ini" ucapku datar tanpa menatap Bayu.

"Hmm menyelesaikan untuk sejauh ini? Aku kecewa sama kamu Nit.. kenapa kamu kasih aku hidup lagi ? Jika kamu sendiri sudah memiliki hidup dengan orang lain? Mengapa kamu hadir jika hanya ingin menyisakkan luka lagi? Kenapa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku Nit? Kenapa kamu begini Nit?"

Tubuhku bergetar.. aku..aku lupa diri. Ya memang sebulan ini aku melupakan Jay . Melupakan semua persiapan pernikahanku yang tinggal 3 hari lagi. Aku terlalu larut dengan masa laluku. Tanpa tahu akan ada yang terluka.

********

Itulah terakhir kali aku melihat Bayu. Aku tak melihatnya lagi. Aku pun takut luruh lagi di hadapannya lagi. Sudah cukup. Semuanya sudah selesai. Tapi mengapa aku masih memikirkan dia ? Padahal inilah gerbang hidup baruku.
Aku sudah sampai di gerbang hidup baruku. Tapi kenapa aku tak bisa lepas dengan semua tentang Bayu ? Kenapa?

"Nit..semuanya sudah siap..apa kamu sudah siap?" Tanya ibu

Aku mengangguk lemah.

"Kenapa? Apa kamu masih memirkan Bayu? Apa kamu masih merasa bersalah dengan Bayu?"
Aku tertegun tak bisa berkata apa - apa dan aku tak bisa menutupi perasaan di depan ibu. Inilah yang aku suka dengan ibu selalu mengerti keadaanku.
"Ibu mengerti..tapi keadaan di depan akan membuatmu lega Nit.." ucapnya lalu memboyongku ke pelaminan.
Suasana ramai tapi khusyu. Jay terlihat begitu menawan dengan senyuman yang tak pernah lepas. Ijab kabul akan di laksanakan. Jantungku berdegup kencang. Apalagi ketika Jay sudah siap-siap menarik napas untuk mengikrarkan aku. Mengucap janji dengan Tuhan yang akan menggetarkan Arsyi-Nya.
Tubuhku menegang ketika seseorang datang. Ketika ijab akan dilakukan. Seseorang di masa lalu. Yang menggagu pikiranku akhir-akhir ini. Yang membuat aku lupa dengan semua kenyataan yang aku hadapi. Karenanya aku melupakan Jay. Dan kini ia datang.

"Bayu.."

"Saya terima nikah dan kawinnya Anita Sarah binti Ahmad Jumhari dengan seperangkat alat sholat.di bayar tunai !!"

Semuanya berubah. Aku kini telah memasuki gerbang itu. Tapi..separuh jiwaku masih berada di masa lalu..

"Semuanya telah selesai. Terimaksih untuk kesadaran yang kau bagi hingga aku sadar hidupku masih berlanjut. Kini aku melepasmu. Aku ikhlas. Kamu sudah memilih jalanmu begitupun dengan aku" ujarnya ketika ia menemuiku di hari pernikahanku. Dan itu membuatku lega dan ringan dalam menjejaki hidup baru. Kulihat tangan wanita yang menggandeng Bayu. Itu adalah Ninda.

****


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH,KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SERTA CARA MENGISTALL WINDOWS ME

MAILMARGE

SENI BENJANG,SENI BUHUN LELUHUR TATAR SUNDA