MAHASISWA SEBAGAI GARDA TERDEPAN AGEN PERUBAHAN


MAHASISWA SEBAGAI GARDA TERDEPAN AGEN PERUBAHAN


Masih ingat dengan  Budi Utomo? Sumpah Pemuda? Tragedi 1988?

Ingat doooongggg…

Apa sih itu semua?

Isi mata pelajaran sejarah…. *bhaks

Tapi memang betul sih. Semua itu adalah materi sejarah yang berulang kali tercetak sebagai materi pelajaran siswa-siswi mulai dari SD-SMA.
Bener gak tuh? Beneerrrr….
Sebenarnya sayang banget kalau teman-teman tahu Budi Utomo, Sumpah Pemuda sama Tragedi 1998 dengan titel materi sejarah doang. Padahal, kita bisa memetik nilai yang baik dari itu semua. Apalagi dari ketiga peristiwa tersebut kita bisa tarik garis lurus yakni; MAHASISWA.

Lho kok mahasiswa?

Jawabannya simpel : karena mereka yang mempelopori itu semua.

So, dari dulu mahaiswa alias pemuda pemudi alias generasi muda udah punya andil besar dalam perubahan yang terjadi di Indonesia. Coba deh kalian lihat di buku sejarah atau cek ke mbah google tentang pergerakan apa saja yang dipelopori mahasiswa. Pasti baanyyyaaakkk banget. Bahkan diseluruh dunia kekuatan mahasiswa alias generasi muda ini gak diragukan lagi pengaruhnya bagi negaranya masing-masing.
Contohnya Budi Utomo, dulu kita kalah mulu kalau lawan penjajah tapi sejak adanya Budi Utomo masyarakat Indonesia jadi mengerti kalau lawan penjajah itu gak bisa sendirian alias kedaerahan tapi kita harus bersatu untuk melawan penjajah. Hasilnya? Tentu memuaskan. Mulai dari sini nih, organisasi mulai banyak, tentunya perubahan pola pikir masyarakat mulai berkembang lebih baik.
Lalu, Sumpah Pemuda. Yang ini pasti sudah tahu soalnya setiap tanggal 28 Oktober sering diperingati. Nah yang ini bahkan efeknya lebih besar, yang tadinya “Saha Maneh?” “Urang mana maneh?” ( Siapa Kamu? Orang mana kamu?) menjadi “Kita adalah Indonesia”. Pemuda-Pemudi bangkit dan menyuarakkan kesatuan. Disini sudah terlihat bahwa mahasiswa alias generasi muda sejak dulu menginginkan perdamaian dan kemerdekaan sebagai suara hati rakyat. Analogi tentang semangat para generasi muda ialah seperti orang tua dan anak kecil yang sama-sama di cubit dalam waktu yang bersamaan maka sudah dipastikan siapa yang teriak lebih kencang, bukan? Yap. Anak kecil alias perumpamaaan mahasiswa. Karena kecendreungan generasi tua adalah kecenderungan yang tergantikan dan generasi muda adalah yang menggantikan.
Terakhir, tragedi 1998, mahasiswa dapat merobohkan para penguasa. Keren bukan? Padahal kalau ditilik siapa sih mahasiswa? Yang sering ngutang kalau makan? Sering rusuh? Manusia-mansuia bokeh? *ancang-ancang sembunyi ngeliat para mahasiswa mau nimbukin. Yups gak salah kok. Tapi kok bisa sebegitu punya andil besar untuk merobohkan penguasa? Karena mahasiswa kala itu cenderung sangat sensitif akan pemerintahan dan sangat bersikeras ingin berubah. Apalagi solidaritas, rasa senasib dan sepenanggungan yang katanya nih… yang konflik 2 orang yang turun satu angkatan hhehehe peace-peace mahasiswa!. Intinya adalah mahasiswa atau generasi muda itu sangaaaattttt bisa diandalkan dalam agen perubahan Indonesia. Sejak dulu sudah menjadi garda terdepan dalam perubahan di Indonesia. Tentunya hari dan hari yang akan datang harus tetap seperti itu. Karena sudah terbukti bagaiman hasil yang ditorehkan sejak zaman dulu.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa sekarang?
Sibuk main gadget?
Sibuk jadi selebgram?
Sibuk viral-in berita hoax?

Gak memungkinkan itu benar adanya. Namun jika kita lihat lebih jeli lagi, dalam peristiwa sekarang itu kita bisa lihat, bagaiman effort seorang mahasiswa alias generasi muda yang banyak pengikut masih sama sebetulnya karakter dengan mahasiswa zaman dulu yang mempunyai poros peradaban atau perubahan mungkin perbedaannya kalau dulu poros perjuangan kalau sekarang poros popularitas hehe.. tapi keduanya sama akan karakter ‘mempengaruhi’. Contohnya lihat deh para selebgram ketika mereka endorsing pasti deh follower ngikutin. Tipe-tipe karakter mempengaruhinya masih sama namun dalam jalan yang berbeda lalu kita bayangkan kalau karakter para mahasiswa di era millennial ini di arahkan yang asalnya “Ayo beli ini… ini enak banget!’ jadi “AYO JAGA INDONESIA!”
Saya yakin orang-orang yang awalnya enggak tahu caranya cinta tanah air atau cuman ngikut zaman ae… jadi dia akan berpikir bagaimana berkontribusi bagi perubahan Indonesia yang menjadi lebih baik. Bagaimana menjadi poros peradaban dan bagaimana menjadi garda tedepan agen perubahan Indonesia yang berkualitas!

-Bangsa yang berjaya adalah ketika adanya banyak pemikir dan adanya banyak pejuang. Bangsa yang hacur adalah ketika tidak adanya pemikir dan tidak adanya pejuang-


Note : 1. sebagai pemenuhan tugas PBAK UIN SGD BDG 2018
           2. Kekuaranagn dalam isi artikel mohon dimaklumi
           3. Tidak ada maksud tertentu
           4. Dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH,KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SERTA CARA MENGISTALL WINDOWS ME

MAILMARGE

SENI BENJANG,SENI BUHUN LELUHUR TATAR SUNDA