CERITA PENDEK (ROMANCE)



DENTINGAN RINDU
         
Saat mata ini terbuka,aku masih mengharap bayanganmu lah yang pertama ku lihat. Deru nafasmu sangat ku harapkan menderu di selisik kalbuku. Tak terhitung lagi coretan yang ku torehkan untuk menggambarkan dirimu. Menggambarkan perasaan ku terhadapmu. Kamu..really my hero.
          “Kamu sudah bangun sayang ?” Ucap ibuku dengan tangan menggapai tirai. Siluet kehangatan sang surya merajam tubuhku,menyisakkan kehangatan untuk jiwaku.
          “Yes Mom...” Aku beranjak bermaksud untuk bersiap-siap untuk menghadiri gladiresik konser lusa.
          “Oh ya Mom and Dad minta maaf tidak bisa menghandiri konser lusa soalnya Mom and Dad ada urusan,tapi Mom akan menemanimu untuk galdiresik bagaimana ?”
          “Its oke !”

*********

          Kakiku mengijakaan di sebuah ruangan besar nan luas. Kursi-kursi berjejer rapi menghadap panggung indah. Suasana redup rindu sangat terasa. Sesuai tema yakni;RINDUKU. Aku bergabung dengan pengisi acara lainnya. Ternyata acara galdiresik sudah dimulai. Terlihat beberapa dancer sedang menari di atas panggung.
          “Mega” Teriak sesorang memanggilku ternyata Om Seno salah satu creative acara ini.
          “Eh Om ?” ucapku lalu menghampirinya.
          “Ah kamu kemana saja ? Datang  sama siapa ?”
          “Sama Bunda,tapi tadi Bunda izin ke toilet”
          “Oh ya sudah..Oke semuanya kita ngumpul dulu yuk !” Teriakkannya cukup membuat dinding gedung ini bergetar. Dan tak lama semua pengisi acara ini kumpul. “Oke semuanya ! Mohon Perhatian ! Lusa kita gelar acara musik ini Saya harap semuanya bisa bekerja sama . Karena tema kita RINDUKU. Saya harap teman-teman bisa menghayati di setiap adegannya !”
          Begitulah kira-kira arahan dari Om Seno,aku tidak begitu mendengarnya. Karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Kemudian aku disibukkan dengan galdiresikku. Aku mengisi di segmen 3 dan segmen terakhir.
          Lalu Om Seno mengintruksikan untuk kami beristirahat sejenak. Sejak tadi Mamah sibuk mengobrol dengan salah satu crew acara ini,entah siapa aku kurang tahu. Dan aku memilih duduk di salah satu kursi penonton yang bisa dibilang agak pojok dan gelap. Entahlah akhir-akhir ini aku suka sekali di suasana seperti ini,hening dan gelap. Aku memutuskan untuk membuka buku diaryku..

          Sejenak aku ingin lari mengejarmu
          Menautkan rasa kasih ini
          Tapi sayang..
          Bayanganmu sudah jauh..
         
          Radit..ini sepenggal puisi untukmu. Jika kau ada dan melihat puisiku ini pasti kau mencelanya. Iya deh aku tahu .. kamu kan seorang penulis. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan..tapi kenapa kamu menghilang ? Sungguh aku tak mengerti motif apa yang kamu gunakan untuk menjauhiku..Kau ingat ? ....Dulu kau menyematiku .. kau bilang “Mega namamu itu artinya besar ! Jadi kau harus punya semangat yang besar !”. aku selalu mengingat kata-kata itu,akan selalu ku ingat. Tapi disaat aku mengijakkan kaki-kaki di antara bintang-bintang..kenapa kau menghilang ? Kemana janjimu untuk melihatku beraksi di atas panggung ?. Radit..janjilah kepadaku untuk menepati janjimu.
         

          Masih belum puas menorehkan segala kerinduaku untuk seorang Radit. Aku menulis beberapa penggal bait puisi untuknya. Radit..sosok yang penuh dengan warna.

          Saat senja redup
          Mengikis harapan semu
          Hancur sudah
          Pijakan raga..

          Namun,,,
          Roda terus berputar
          Malam berrganti siang
          Badai berganti rintik
          Topan berganti semilir

          Secercah sinar menggapai hati
          Hati yang rapuh sayu
          Mengubah gelap menjadi terang
Mengubah dingin menjadi hangat

Sayang...
Saat senja merah jingga
Membentang di langit
Menyibakkan keraguan

Engkau menghilang...
Menyisakkan kerinduan
Membangkitkan pengharapan
Akankah bintang bersinar dengan matahari

“Hayoo lagi ngapain ?” seseorang menepuk pundakku. Badanku berjengit karena hal itu. Ternyata Mba Andien. “Ih..itu apa ?”. Tanpa ba-bi-bu ia langsung saja menyambar kertasku. Dasar gak sopan ! Kalo saja itu bukan kakakku,mungkin aku sudah menendang jauh dari hidupku.
“Ih..Mba ini gak sopan banget sih ? Balikin gak ?”
“Engga ah..coba liat..Saat senja meredup wihh dalem banget ..sejak kapan adikku yang unyu ini bisa buat puisi hemm?” ucap Mba Andien yang menurutku pasti ujung-ujungnya bakal ngegodain aku habis-habisan soalnya emang dari dulu aku gak bisa bikin puisi..hadehh bisa gempar nih rumah kalo Mba Andien terus-terusan kaya gini..kan malu !.
“Apa sih mba ? Sini ah..gak lucu !”
“Yey siapa yang ngelucu persaan Mba kan seorang pengacara bukan pelawak ? Iya kali waktu sidang neglucu yang ada Mba yang di hukum !”
Aku memutuskan pergi meninggalkan Mba Andien yang terus ngoceh “Cieeeeee adik Mba lagi jatuh cinta ....cieee” dengan suara kenceng lagi..kan bikin malu si Mba gak nyadar atau gimana sih ? kan ini studio bukan rumah...hampun dah punya kaka kaya gitu..
“Mega! Giliran kamu tuh !”. aku menngagguk lalu naik ke atas panggung. Dengan mood yang masih ancur karena ulah Mba Andien yang tiba-tiba ada kaya mahkluk astral..ah harusnya aku udah biasa dengan sikap Mba Andien yang selalu tiba-tiba ada tiba-tiba ngilang itu..toh salah satu sikapya adalah ngintilin aku. Yap,memang gitulah Mba Andien mungkin kalian heran kan biasanya adik yang ngintilin kakaknya. Kalo ini kakak yang ngintilin adiknya.
Saat aku memainkan tuts piano mengiringi seorang penyanyi. Aku sempat melirik ke arah kursi penonton tepatnya ke arah Mba Andien duduk. Hmmm aku ini lagi fokus lho Mba ! malah diliatin kaya gitu..enak gak sih kalian ? Di saat kalian lagi serius latihan terus kakak kalian ngeliatin sambil senyum-senyum ga jelas..Oke kalo senyum kagum atau gembira ? Lha ini ? senyum yang bikin orang gedeg pingin makan buaya hidup-hidup. Dan samar-samar aku mendengar “Pengkhayatannya ditingkatkan sayang !!! bayangin aja lagi rindu sama doi kamu yang udah 5 tahun gak ketemu !”. kan bikin malu -_-

************
Aku duduk di sebuah bangku di taman. Tak menghiraukan seberapa basahnya diriku karena air hujan. Yang aku inginkan sekarang adalah aku ingin menangis. Aku gagal. Aku orang bodoh. Aku sudah mengecewakan kedua orang tuaku dan orang-orang yang sayang terhadapku.
Kalo saja aku tak melakukan hal yang bodoh. Mungkin sekarang aku akan berdiri bangga di panggung itu. Di panggung kebesaran itu. Ahhhrgghh...!. Kenapa hidupku semenyedihkan ini sih ? beda dengan Mba Andien yang selalu dapat piala karena kecerdasannya. Tapi aku ? juara di kelas aja enggak ? otak amatiran. Yang aku bisa cuman main piano tapi itu juga masihh arrgghhh andai aja aku gak gugup tadi , aku gak bakalan lupa nadanya !.
Aku semakin terisak mengingat kebodohan yang baru saja aku perbuat itu. Dadaku semakin sesak. Dan aku mulai merasakan dinginnya air hujan yang meresap ke pori-pori kulitku. Aku melihat tetes demi tetes air hujan membasahi pakainku. Tapi lama-lama tetes itu semakin hilang apakah hujan mulai reda ? ah tidak mungkin,karena aku melihat kedepan hujan masih mengguyur bahkan semakin lebat. Apa air hujan pun enggan membasahiku karena kebodohanku ?.
“Kamu bakalan sakit kalau hujan-hujanan seperti ini” ujar sesorang yang ternyata dialah penyebab mengapa air hujan tak mengguyur badanku lagi. Ia duduk di sebelahku dengan tangan masih memegang payung yang menaungi kami berdua.
“Kenapa kamu hujan-hujanan seperti ini ?” tanyanya aku hanya bisa menggeleng. "Kamu kedinginan?” tanyanya lagi,dan aku pun menggeleng untuk kedua kalinya.”Gak usah sungkan deh..” . Setelah berucap seperti itu, laki-laki itu lalu memberikan pegangan payung itu kepadaku dan aku memegangnnya. Dan tak disangka jaket yang ia kenakan ia lepas lalu ia pakaikan jaketnya itu padaku.
Aku hendak melepas jaketnya yang berimbas pada payung yang tergeletak karena sekali lagi kebodohanku yang tidak menyuruhnya memegang kembali payungnya itu. Jaket tak terlepas karena tindakan dia memberhentikan tingkahku itu. “Terimakasih” ujarku saat aku tahu usahaku sia-sia saja untuk mengembalikan jaketnya itu. Dan aku baru sadar karena ulahku,pria itu sekarang basah kuyup sama sepertiku. “Maaf” ucapku ia terlihat bingung “Untuk apa ?”.”Bajumu basah kuyup” ia tertawa kecil “Tak apa-apa tak usah dipikirkan”.
Dia berhasil membuatku nyaman dan tak kedinginan lagi. Aku pun tanpa sadar mencurahkan semua yang ku pendam. Kegagalan memasuki salah satu ajang pencari bakat karena aku gugup kemudian ia mulai menanyai hal-hal yang tak penting seperti “Rumah kamu dimana?” “Kamu anak keberapa?” “Cita-cita kamu apa ?” “Nomer telepon mu berapa?”. Seperti itulah dan aku pun mulai menanyai balik karena aku tak tahu harus berkata apa.
“Oh ya ? Namamu siapa ? kita sudah berbincang banyak hal sampai tak terasa hujan sudah reda dan kini senja telah datang tapi selama itu aku tak tahu namamu siapa?” aku hanya tersenyum “Mega”.
“Emm Mega ?”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak. Namamu bagus”
“GOMBAL”
“Sayangnya aku bukan raja gombal”
“Tapi kamu kan seorang penulis. Pastinya kamu tahu banyak hal tentang-tentang kalimat untuk menyanjung bukan ?” aku tak mau kalah.
“Kadang jadi penulis gak enak ya”
“Kenapa?” tanyaku polos
“Karena disaat kita benar-benar bicara serius dianggap bercanda” ucapnya lalu melirik kepadaku. Aku tahu ini sindiran. Dasar menyebalkan ini orang !.
“Apa sih ?” aku mendelik kesal.
“Mega namamu itu artinya besar ! jadi kamu haru punya semangat yangbesar !” ia tersenyum kepadaku lalu beralih memandang senja yang semakin meredup.”Aku harus pulang”. Aku mengangguk “Terimakasih” ia hanya tersenyum dan bangkit tanpa menoleh lagi. Aku pun menatap punggungnya baru beberapa langkah,tanganku mersakan sesuatu saat meraba ke sebelah kanan bangku taman ini. Ternyata gelang. Eh tungu..ini pasti gelang Radit.
“Radit ! Radit ! Tunggu !!!” Aku mengejar Radit. Ia berada di depanku hanya beberapa langkah tapi kenapa ia tak menoleh ? Apa suaraku kurang keras ?.
“Radit !!!!! Ini gelangmu lepas !!!” Aku berlari namun anehnya aku tak pernah bisa mensejajari langkahnya,padahal hanya beberapa langkah di depanku..
“RADIT !!!!!”

Aku mengerjapkan mata. Ternyata hanya mimpi.

Mimpi pertemuan pertama kali aku bertemu dengannya. Aku sudah memimpikannya 3 hari berturut-turut. Semakin aku merindukannya saja. Aku bangun menyalakan lampu kamarku. Aku merogoh laci di samping ranjangku lalu mengambil gelang. Gelang radit. Aku menatapanya. Kemudian aku meraih handpone di atas nakas. Di sana tertera pukul 00.15. Ternyata ini tengah malam aku membaca salah satu pesan..

Kau sudah dirumah kan ?”

                                                          -Radit-
“Sudah..”

                                                          -Mega-
“Dit..terimakasih atas waktunya”

                                                          -Mega-
“Dit..bales sms ku dong “

                                                          -Mega
“Dit..”

                                                          -Mega
“Radit”

                                                          -Mega-
56 pesan lainnya sama dengan apa yang aku kirimkan. Tapi tak ada balasan darinya,entah mengapa. Dan sudah 1000 lebih aku berusaha menelponnya tapi tetap saja yang menjawab “Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk”.
Sesibuk apa kamu sih Dit ? sampai-sampai kamu tak menggubris pesan-pesanku?. Ah sudahlah aku haus terus-terusan memikirkanmu. Aku pun beranjak dari ranjang. Melangkah perlahan menuju dapur. Dilantai bawah aku melewati piano kesayanganku. Entah dorongan dari mana,kakiku melangkah mendekati piano dan jemariku tak sadar sudah menari diatas tuts-tuts piano. Aku menikmatinya. Aku semakin menikmatinya. Dan terdengar..

BRAKK

“Aduh adekku sayang pianis besar nan terkenal. Emangnya sebegitu cintanya sama tuh piano ? Inget waktu dong ..ini jam berapa coba ? Mbamu ini gak bisa bobo cantik kalo gini. Ayolah..besok pagi-pagi aja ya main pianonya malam ini Mba harus tidur biar besok bisa dampingi kamu tampil”
Tapi aku tak menggubrisnya. Yang aku dengar adalah alunan piano yang mengusik relung hatiku. Menyentuh setiap kekosongan yang ada. Mengobati kerinduan yang entah kapan akan berakhir.

***************

Aku menunggu giliran naik panggung. Mba Andien setengah jam lalu menghilang tiba-tiba. Selalu saja seperti itu. Memang Mbaku yang satu inipaling ajaib. Ngidam apa Mamah sampe-sampe Mba Andien hobinya ngilang mulu. Untuk mengusir bosan dan juga gugup,aku membuka ponsel. Aku membuka salah satu akun media sosial. Saat kubuka sudah banyak mention-mention dari penggemar-penggemarku.

@sansanmilanda
@megathanya sukse konsernya mba J

@dedentik
Kak @megathanya lagi nunggu keluarnya sang pianis besar yang semangat....

@farhanjisen
Penasaran sama ferformance nya si cantik pawang piano @megathanya

Aku lagi-lagi berjengit dengan keberadaan sosok Mbaku ini. Tiba-tiba saja ia berkata tepat di telinga “Cieee yang dapet semangat dari para penggemar ?”.
Siapa yang gak kaget coba ? aku merengut “Mba ! Bisa gak sih kalo dateng sama pergi itu gak tiba-tiba ? Untung aku yang jadi korban kalo kakek berpenyakit jantungan udah koid kali Mba”.
“Hihi masa sih ? Kemarin malahan Mba ngagetin nenek yang baru sadar dari koma.dan gak koid tuh malah koma lagi” ucapnya enteng.
Aku mendelik sebal lalu bangkit karena crew sudah mengisyaratkanku untuk segera naik panggung. “Semangat adikku sayang yang lagi jatuh cinta !!!!!”. Tuh kan menyebalkan sekali.
Ini segmen 3. Aku mengiringi seorang penyanyi. Sangat menyetuh. Begitulah menurutku untuk lagu yang didendangkan oleh penyanyi itu. Aku pun larut dalam permainanku dengan piano. Di akhir aku mendapat tepukan yang meriah. Andai saja kau melihat ini semua..

*********
Aku baru saja dari toilet. Aku masih bisa beristirahat karena tingal menunggu segmen terakhir. Aku melihat Mba Andien sibuk dengan poselnya. Sesekali mengetik dengan begitu serius. Lalu mengangkat telpon berkali-kali. Mungkin dari kliennya kali,pikirku.
“Mega..Mba keluar sebentar ya..ada urusan”
“Urusan apa ?”
“Kepo” ia tertawa lalu menghilang di balik tirai.
Rasa bosan mengganguku lagi. Apalagi si gugup terus mengelitiki. Ah..diruangan ini hanya ada aku. Semua sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Aku mengeluarkan buku diaryku. Dan aku menemukan gelang radit. Aku baru ingat kalo semalam aku menyimpannya di buku diaryku.
Ada dorongan sehingga aku menautkan gelang Radit di pergelangan tanganku. Ada rasa nyaman saat memakainya. Aku memejamkan mata.

Andai saja..saat ini kamu berada di sini melihat ku

“Mega ?”
Aku berbalik .”Om Seno ?”
“Kamu siap-siapya ! segmen akhir nih..”
Aku tersenyum “Siap komandan !”
“Good girl!”

Aku pun keluar menuju pangung. Suasananya sangat romantis . lighting biru mendominasi dengan siluet kuning dan hijau. Hembusan angin menambah kesan kerinduan yang mendalam. Aku melangkahkan kaki duduk di depan piano.
All artis telah berjejer dengan koreo membentuk hati. Jariku mrngalunkan untuk intro yang cukup lama..sehingga kesan kerinduan itu semakin nyata. Posisiku berada di sisi kanan bukan di panggung utama. Bilang saja kalo aku punya panggung tersendiri. Aku mengamati setiap tuts yang aku alunkan,meresapi setiap nada yang keluar. Gelang Radit berdansa indah dengan tuts-tus piano.

“Saat senja redup..”
“Mengikis harapan semu”

“Hancur sudah..”

“Pijakan raga”

Aku tertegun dengan bait-bait yang dilontarkan. Segmen terakir memang penutupnya buka dengan nyanyian tapi puisi. Tapi jelas puisi ini bukan puisi yang dilantunkan saat latihan maupungladiresik. Aku tertegun tapi jemariku masih terhanyut berdansa dengan tuts-tuts piano.
Aku berusaha fokus. Aku menatap di kerumunan crew ada Mba Andien. Pasti ini ulah dia. Awas saja !. aku mengedarkan pandangan ke arah penonton tampak takjub . Padahal aku sudah sangat kahwatir karena kefokusanku sudah terbelah.
Aku menangkap sosok di salah satu barisan penonton. Kenapa aku baru menyadarinya ?. Aku bersitatap dengannya. Sesorang yang sedang ku tunggu. Kini datang. Tapi.apakah semua ini nyata ?.

Radit

Ia melihatku..ia tersenyum lalu mengangguk kepadaku.

Aku memalingkan pandangan ke arah tuts-tuts mencoba untuk tidak mengkhayal. Dan mencoba menatap ke arah penonton.

Tetap ada.

Ini nyata. Sungguh ini nyata. Radit ada disini. Setelah 2 tahun menghilang kini ia datang. Tersenyum kepadaku. Menatap bangga padaku. Aku terharu. Tak terasa setitik air mata mengalir indah. Ia melihat ku menangis kemudian ia mengisyaratkanku untuk tidak menangis. Aku dan Radit saling bersitatap menyalurkan segala kerinduan yang dipendam.
Saat dentingan rindu berhenti mengalun. Ia melangkah menghampiriku. Aku tersenyum dan mengedarkan pandangan. Terlihat Mba ku yang tersenyum jahil. Dan pengisi acara mulai meninggakan panggung. Beberapa crew mulai pergi untuk megurusi yang lainnya. Penonton pun sudah tidak ada lagi. Tapi Radit masih melangkah. Dan Mba Andien melenggang pergi tanpa bersalah.
Aku menunduk air mataku terus mengalir. Aku masih tidak percaya. Aku takut jika semua ini hanya khayalan kerinduanku saja. Aku tak berani menatap kebarisan kursi penonton. Aku hanya menetap gelang yang sekarang ku pakai. Seseorang menyentuh pundakku. Aku mendingak.

“Radit” lirihku

Ia tersenyum kemduian mengusap pipiku yang basah karena air mata yang terus mengalir. “Kenapa menangis ?”
Aku menggeleng. Tapi air mataku tetap saja tak mau berhenti.
“Aku bilang jangan menangis” ucapnya lalu memelukku. Aku pun memeluknya erat.
Lama. Karena pelukan itu membuatku semakin menangis. Mengeluarkan segala keriduanku. Kerinduan yang ku pendam selama ini.
“Mega...aku ingin melihatmu bermain piano sekali lagi boleh ?”
“Boleh”

Aku segera memainkan pianoku. Sesekali terisak. Ia menatap lamat mungkin merasakan setiap kerinduan yang ku pendam.

“Mega..aku sudah menepati janjiku kan ?” ucapnya sehingga aku memberhentikan alunan piano.
Aku mengangguk “Tapi kenapa baru saat ini kamu menepati janjinya’
Dia tersenyum “Ini untukmu” sebuket bunga warna-warni menyibakkan mataku. Aku tersipu malu.
“Aku sudah meneapti janjiku kepadamu”
“Lalu?”
“Sekarang giliran kamu berjanji padaku”
“Apa?”
“Tetaplah tersenyum apapun keadaanya”

*****************
          Aku menatap sendu nisan yang ada di hadapanku. Ribuan bunga menghiasi pemakaman ini. Aku tak menyangka Radit meninggalkanku secepat ini. Dua minggu lalu ia datang kembali untuk menepati janjinya. Aku tak sadar kalo selama ini ia sakit.
          Selama dua tahun ini menghilang karena penyakitnya. Aku tak pernah menyangka seseorang yang segar dalam tawanya ternyata menyimpan kesakitan yang amat sangat. Leukemia merenggut segalanya.
          Entah berapa ribuan tetes yang aku tumpahkan. Mengapa semuanya begini ? itulah yang aku pertanyakan. Tapi aku sadar. Semua sudah rencana illahi. Radit lebih bahagia sekarang. Dan akupun harus bahagia. Aku akan menepati janjiku padanya. Untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi.

          Senja tak akan pernah redup karena malam tiba. Senja akan tetap senja.
          Binar bintang dan matahari akan tetap bersama selamanya. Walau siang menghalau binar bintang dan malam menghalau binar matahari,percayalah jika keduanya akan tetap berbinar..

                                                                                                -Radit-

          Sepucuk surat terakhir Radit untukkku. Akan kusimpan selamanya.Terimakasih Radit untuk binar bintang dan binar matahari yang kau berikan dihidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH,KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SERTA CARA MENGISTALL WINDOWS ME

MAILMARGE

SENI BENJANG,SENI BUHUN LELUHUR TATAR SUNDA